oleh

Agnes Mo dan Ras Indonesia. Opini Malika Dwi Ana

Agnes Mo dan Ras Indonesia. Oleh: Malika Dwi Ana Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society.

Ada artis keseleo memakai kata-kata yang mengundang polemik. Itu faktanya. Saya tak hendak ikutan arus bully Agnes Mo, hanya mencoba melihat proporsi masalah dari ras asli Indonesia.

“Darah Indonesia” memang tidak ada. Darah bukan penentu ras; gen manusia diseluruh dunia juga sudah bercampurbaur. Apalagi di Indonesia yang letaknya di tengah jalur lalu lintas persimpangan dunia. Tidak salah kalau menjadi tempat berbaur berbagai macam ras. Jadi, ras asli Indonesia itu yang kayak bagimana?

Kalau saja Agnes Mo ingat bahwa Tionghoa yang berkewarganegaraan Indonesia digolongkan sebagai salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia, sesuai Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

Bahasa yang digunakan masyarakat Tionghoa adalah bahasa leluhur suku Tionghoa. Maka kedudukannya sama dengan bahasa suku daerah lainnya di Nusantara.

Ini sesuai kutipan UU Nomer 12 Tahun 2006:
Pasal 2:
“Yang menjadi Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.”

Dari wawancara Agnes Mo, sebenarnya yang bikin blunder adalah AgMo pakai nyerempet bawa-bawa agama; “I’m Christian”, katanya. Emang kalau Kristen kenapa? Banyak kok yang Kristen live happily dan banyak mendapatkan kesempatan yang sama kan di negeri ini? Terus nyinggung umat muslim yang katanya mayoritas. Pertanyaannya, memang selama ini yang mayoritas ngapain ke Agmo? Bukannya dia (Agmo) punya banyak fans muslim juga di Indonesia?

Dia berprestasi, oke, banyak penggemar oke. Harusnya jika dia WNI ya cukup bilang: I’m Indonesian Chinese, I was born from half Chinese German and Japan parents. Dah gitu ajah, selesai. Lagian tidak ada mayoritas minoritas di sini, yang ada superioritas dan inferioritas. Dan inferioritas itu salah satunya menjangkiti diri AgMo, merasa minder sebagai bangsa Indonesia. Pengen berbeda dari kebanyakan orang Indonesia, lalu pakai ngomong bukan darah Indonesia pula.

Baca Juga :  Membaca Skenario Pilpres Melalui Temuan Puzzle

Mayoritas dan minoritas itu tidak pernah soal jumlah. Namun soal kekuatan, baik ekonomi, sosial atau politik. Yang selama ini menguasai perekonomian siapa coba? Apakah umat yang katanya mayoritas ini? Saya tidak percaya pada stigmasi bahwa minoritas tersisihkan oleh mayoritas. Buktinya yang kaya raya mengusai perusahaan yang sahamnya menjadi saham blue chip (penentu perekonomian) di bursa saham Indonesia juga mereka-mereka yang katanya minoritas. Sebut saja Sampoerna, Gudang Garam, Bentoel, Ciputra, Sinar Mas dan lain-lain, siapa yang punya?

Oke, kembali ke laptop. Sebagaimana kita tahu, Indonesia itu adalah “konsep kebangsaan” bukan konsep antropologis. Rasnya disebut ras Melayu yang asal-usulnya gado-gado, dari semua konteks akar ras. Jadi tidak perlu membesar-besarkan hal-hal yang tidak ada tentang Indonesia. Jika pun ada teori Out Of Sundaland atau Atlantis itu kejauhan, 100 ribu tahun yang lalu, tidak ada gunanya diomongin, wong hampir tidak mungkin dicari jejak fisiknya sehingga hanya teori saja. Namun soal Proto, Deutro dan Neo Malay semuanya jelas, asal kita tidak gengsi, mau menerima secara benar pluralitas kita, dan kesetaraan suku-suku yang sebenarnya hanya variasi spesies saja, ras Indonesia itu “tidak ada’. Diversifikasi Ras, masa depan Indonesia, campuran dari berbagai macam ras.

Baca Juga :  Agus Flores: Hak Pembeli Aset Lelang Bank Juga Wajib Dilindungi
Ras Indonesia, baru ada pada tahun 1928, maksudnya RAS IDEOLOGIS, BUKAN ANTROPOLOGIS. Ras Indonesia saat ini disebut GULA KELAPA, terdiri dari RAS MERAH dan RAS PUTIH. Ras berkulit coklat dan kuning, campuran orang Kalang asli kepulauan dan Pendatang dari Ras India, Arab, Persia dan Ras China. Paduan RAS MERAH ini kemudian disebut orang-orang MELAYU, dan RAS PUTIH ini kemudian disebut orang-orang TIONGHOA. Maka Indonesia adalah kesatuan dan persatuan berbagai ras diatas.

Polemik Agnes Mo ini bisa jadi hanya trick dalam menjual, dia mungkin ingin menampilkan sensasi demi mendongkrak popularitas album barunya “Diamonds”. Toh kita sama-sama melihat makin kesini, AgMo makin kehilangan identitas. Kemarin berusaha tampil sangat Amerikana, lalu ketika dekat dengan seleb Afro berubah tampilan menjadi rasa Afro. Sehari dia jualan etnik Indonesia dengan berkebaya, besoknya bisa tampil dengan dandanan setengah ‘telenji’. So, kita sudahi polemik AgMo dan kembali fokus pada masalah substansi bangsa ini, yang potret ekonominya bopeng.

Loading...

Baca Juga