oleh

Langkah Strategis Politik Luar Negeri Indonesia, Opini Husen Umkabu

Langkah Strategis Politik Luar Negeri Indonesia Dalam Perspektif Komunikasi Politik. Oleh: Husen Umkabu, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Langkah Strategi Politik luar negeri Indonesia harus memiliki dua aspek, hard power dan soft power. Sehingga diplomasi yang di lakukan harus sejalan dengan politik dalam negeri dalam perspektif komunikasi politik.

Komunikasi dan politik merupakan kedua alat yang tak dapat dipisahkan karena memiliki korelasi. Bernard Berelson dan Gary A. Steiner menyatakan bahwa komunikasi merupakan sebuah tindakan atau proses transmisi informasi, gagasan, emosi, ketrampilan, dan semacamnya.

Sementara  menurut Roger Soltau, politik adalah sebuah ilmu yang meneliti negara, tujuan negara, serta lembaga negara yang  ada di dalamnya, yang mana melaksanakan tujuan tersebut. Termasuk hubungan antara negara terhadap warga negaranya dan juga negara lain.

Pertanyaan mendasar bahwa mengapa Indonesia saat ini belum memiliki power (kekuatan) diplomatik luar negeri?

Karena sebagai suatu negara harus memiliki hard power dan shof power. Sangat penting untuk menunjukkan kapasitas sebagai negara yang memiliki kekuatan diplomasi yang kuat dan efektif

Baca Juga :  JIC Adakan Pelatihan Pengolahan Ampas Tahu Sebagai Produk Makanan

Hard power adalah bentuk langsung dari pendayagunaan kekuatan, baik dengan pola pendekatan coercive (memaksa) maupun reward (pemberian hadiah).

Bentuk power kedua adalah soft power. Berbeda dengan pendekatan hard power yang transaksional, pendekatan soft power lebih berkarakter inspirasional. Yaitu kekuatan menarik orang lain dengan kekuatan kecerdasan emosional. Seperti membangun hubungan atau ikatan yang erat melalui karisma, komunikasi yang persuasif, daya tarik ideologi visioner, serta pengaruh budaya, sehingga membuat orang lain terpengaruh.

Diskursus soft power terus berkembang dan dimasukkan kedalam kategori pendekatan power secara struktural. Menurut seorang ahli ekonomi politik internasional Susan Strange, bahwa structural power adalah kekuatan menentukan bagaimana tujuan-tujuan akan dilakukan.

Belum lagi kemampuan yang minim dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada sistem internasional dimasa yang akan datang oleh negara-negara tersebut. Sehingga yang terjadi adalah tiap pemerintah negara-negara tersebut selalu memberikan usaha-usaha yang berkesinambungan untuk menanamkan pengaruhnya dalam politik Internationa. Usaha-usaha tersebut akan menjadi sia-sia jika negara tersebut tidak memiliki power yang cukup untuk menanamkan pengaruhnya di sistem politik International.

Baca Juga :  Pengurus DPD PDI Perjuangan DKI Dipenuhi Generasi Milenial

Salah satu contoh sederhana studi kasus yang dilakukan China terhadap Indonesia pada tanggal 3 Januari 2019. Terkait dengan 20 kapal nelayan dari China yang masuk dalam wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di kepulauan Natuna.

Padahal itu menjadi komsumtif publik terhadap masyarakat Indonesia sampai saat ini. Bahkan inilah yang menjadi cikal bakal langkah strategis yang di ambil Indonesia untuk melakukan diplomatik luar negeri.

Maka saya berpandangan bahwa dua aspek yang di kemukan antara hard power dan shof power terhadap Indonesia dianggap lemah dalam berdiplomasi. Hanya saja konsen dalam membangun hubungan bilateral berupa investasi yang mengkhawatirkan bangsa kita sehingga berimplikasi terhadap masyarakat kelas bawah yang kemudian akan berdampak pada generasi masa akan datang.

Loading...

Baca Juga