oleh

Pendemi Virus China. Sebuah Opini Azis Syamsuddin

Pendemi Virus China. Oleh: Azis Syamsuddin, Wakil Ketua DPR RI bidang Korpolkam.

Pemerintah China memperluas upaya karantina untuk menahan laju penyebaran virus corona Wuhan yang mematikan. Otoritas setempat mengisolasi 13 kota dengan 41 juta orang di dalamnya. Jumlah tersebut lebih besar dari jumlah penduduk Kanada. Keputusan ini diambil seiring bertambahnya jumlah orang yang meninggal akibat virus ini menjadi 26 orang di China.

Berbagai perayaan Tahun Baru Imlek juga telah dibatalkan. Sementara Kota Terlarang, Disneyland Shanghai, dan sebagian Tembok Besar China ditutup untuk mencegah penyebaran virus Corona Wuhan lebih lanjut.

Pihak berwenang mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran virus corona baru. Saat ini, virus ini telah menginfeksi lebih dari seribu orang di dunia.

Perkembangan virus corona misterius ini membuat WHO menggelar rapat darurat pada pekan ini. WHO menggelar rapat di Jenewa pada hari Rabu (22/1) dan menyatakan bahwa wabah virus tersebut sudah berstatus “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”. Status ini termasuk langka dan hanya digunakan untuk epidemi paling parah di dunia.

Wabah Virus Corona juga sudah mewabah ke beberapa negara lain di luar China, di antaranya: Hongkong, Makau, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Thailand, Taiwan, Vietnam, Nepal, Australia, dan Perancis. Virus ini menyebar melalui orang-orang yang pernah berkunjung ke Wuhan dan memiliki ketertarikan dengan orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut.

Muncul dugaan bahwa Virus Corona ini merupakan hasil rekayasa genetika yang dikembangkan untuk senjata biologi.  Analis dari Israel menduga bahwa wabah virus corona ini diakibatkan oleh bocornya senjata biologis Cina. Kebocoran ini berasal dari laboratorium Wuhan yang terkait dengan program senjata biologi rahasia milik negeri komunis tersebut.

Dugaan ini disampaikan mantan perwira intelijen militer Israel, Dany Shoham. Dia telah mempelajari senjata perang biologis Cina. Dia mengatakan bahwa Institut Biologi Wuhan ini terkait dengan senjata biologis rahasia milik Beijing. “Laboratorium tertentu di institut ini mungkin telah terlibat, dalam hal penelitian dan pengembangan [senjata biologis] Cina, setidaknya sebagai fasilitas utama penyelarasan senjata biologi Cina.”

Namun, berdasarkan analisis dari peneliti lainnya, kecurigaan muncul justru setelah mereka melihat tingkah laku virus itu sendiri. Sejauh ini, virus tersebut hanya menyasar orang-orang yang beretnis China, atau manusia yang memiliki DNA China.

Baca Juga :  Dua Unit Rumah Mewah di Raha Ludes Terbakar

Analisa

Kasus ini terjadi di tengah momen yang paling penting dalam tradisi China setiap tahunnya, yaitu: Tahun Baru China. Momen tersebut kerap dimanfaatkan ratusan juta orang beretnis China untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk bertemu saudara atau pun berwisata. Secara ekonomi, momen ini menggerakkan produktivitas ekonomi China sendiri. Biasanya, aktivitas ini mampu menaikkan sector pelayanan public di China dan menggerakkan 52 persen perekonomian China.

Meskipun belum ada bukti otentik, tetapi ada dugaan bahwa virus tersebut disebabkan oleh rekayasa genetika. Salah satu alasannya, virus ini belum pernah dikenal sebelumnya di dunia. Karakter virus ini menggabungkan dua karakter virus yang pernah ada sebelumnya, yaitu: SARS & MERS. Menurut pendapat ilmuwan, sintesis tersebut tidak mungkin terjadi secara alami, tetapi hanya bisa terjadi di laboratorium. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa ada nuansa rekayasa genetika pada kasus ini.

Sejauh ini, tidak ada vaksin untuk virus ini. Selain itu, pola penyebaran virus ini tidak terduga dan tidak terdeteksi.

Berdasarkan asumsi terbaru dari Larry Romanoff, senior position in international consulting firm, sejauh pengamatannya selama ini, semua orang yang terjangkit virus ini merupakan etnis Tionghoa atau manusia yang memiliki ras Mongoloid. Tidak ada kasus yang terjadi pada orang-orang beras Kaukasoid. Hal ini sama seperti kasus Virus SARS sebelumnya yang hanya menjangkiti etnis Tionghoa. Meskipun asumsi ini terlalu dini untuk disimpulkan, tetapi Larry mencurigai bahwa virus ini sengaja dibuat khusus untuk menyasar etnis tertentu (Tionghoa). Menurut Tesis dalam Senjata Biologi yang ditulis oleh Leonard Horowitz dan Zygmunt Dembek menyatakan bahwa dalam perkembangan senjata biologis saat ini, para ilmuwan sudah bisa membuat agen senjata biologi yang secara spesifik menyasar DNA genetika ras tertentu.

Bila dugaan ini terbukti benar, maka perlu dicurigai adanya keterlibatan China dalam pembuatan virus ini. Namun, dugaan ini juga memunculkan pertanyaan tentang motif China dalam penelitian rekayasa genetika virus ini.

Baca Juga :  Surat Terbuka Tertuduh Pimpinan Sindikat Saracen Kepada Prabowo

Dengan demikian, ada beberapa asumsi dari kasus ini, yaitu:

– Virus ini merupakan hasil rekayasa genetika yang bertolak-belakang dengan tujuan rekayasa genetika sebagai solusi bagi kesehatan manusia. Dengan demikian, kuat dugaan bahwa virus ini memang ditujukan sebagai agen biologis (senjata biologis).

– Bila dugaan ini benar adanya, maka aktor pembuatan virus ini sudah melanggar perjanjian internasional yang sudah disepakati pada 1925 melalui perjanjian internasional yang disebut Protokol Geneva yang memuat larangan penggunaan senjata biologi dan disempurnakan oleh konvensi PBB pada 1972 tentang Konvensi Senjata Biologi dan Toksin (Biological and Toxin Weapon Convention – BTWC) yang mempertegas larangan pengembangan, pembuatan, dan penyimpanan segala jenis senjata biologi.

– Salah satu kelemahan perjanjian BTWC: tidak menyediakan fasilitas untuk melakukan pengawasan dan pembuktian kegiatan produksi senjata biologi pada setiap negara. Hal ini membuat perjanjian tersebut menjadi lemah. Pada 1975, sempat dibuat Lembaga adhoc untuk membentuk protocol inspeksi dan pembuktian di lapangan. Namun, pembentukan Lembaga tersebut tidak didukung oleh negara-negara adidaya, khususnya Amerika Serikat. Pada tahun 2008, negara-negara di dunia berhasil mengeluarkan Biological Weapon Convention (Konvensi Senjata Biologi) yang membahas tentang pentingnya pengembangan keamanan biologi, termasuk di dalam laboratorium yang menggunakan pathogen maupun toksin berbahaya. Konvensi tersebut sudah ditandatangani dan disetujui oleh sebagian besar negara-negara di dunia, kecuali beberapa negara di Afrika.

Saran

Negara-negara di dunia segera mendesak WHO untuk melakukan segala cara untuk mencari penyebab dan menjelaskan tentang akar masalah dari kemunculan virus ini.

Publik dunia perlu mendorong agar China membuka secara transparan hasil temuan mereka tentang virus ini, sehingga bisa dikonfrontir dengan hasil penelitian negara-negara lainnya di dunia. Diharapkan, usaha ini bisa membangun solusi bersama atas kasus tersebut.

Untuk mengantisipasi ancaman virus ini, pemerintah perlu untuk memperketat imigrasi dan juga perdagangan ekspor-impor, khususnya benda-benda yang mengandung unsur kimia dan biologi.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia perlu segera mendistribusikan masker ke imigrasi dan pos perlintasan batas di seluruh Indonesia, khususnya di bandara dan pelabuhan yang menjadi pintu masuk orang asing di setiap daerah.

Loading...

Baca Juga