Seruan Damai Terhadap Wabah, Bukti Buruknya Kepemimpinan Sistem Kapitalisme Demokrasi

Seruan Damai Terhadap Wabah, Bukti Buruknya Kepemimpinan Sistem Kapitalisme Demokrasi. Oleh: Khusnawaroh

Seruan Damai Terhadap Wabah, Bukti Buruknya Kepemimpinan Sistem Kapitalisme Demokrasi. Oleh: Khusnawaroh, Pemerhai Sosial Politik.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah situasi penanganan penyebaran virus corona (Covid-19) yang belum lama ini baru genap dua bulan di Indonesia.

Melalui akun resmi media sosialnya pada Kamis (7/5), Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19, hingga vaksin virus tersebut ditemukan.

610X200 HUT Kapuas

Jokowi menyadari perang melawan virus yang telah menjadi pandemi dunia itu harus diikuti dengan roda perekonomian yang berjalan. Oleh sebab itu, dengan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini, masyarakat pun masih bisa beraktivitas, meski ada penyekatan pada beberapa hal. Pernyataan Jokowi itu pun lantas menjadi sorotan di media sosial, lantaran hal itu bertentangan dengan apa yang disampaikannya dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu.

Kala itu, Jokowi secara terbuka mendorong agar pemimpin negara-negara dalam G20 menguatkan kerja sama dalam melawan Covid-19, terutama aktif dalam memimpin upaya penemuan anti virus dan juga obat Covid-19. Bahasa Jokowi kala itu, ‘peperangan’ melawan Covid-19.

Berdamai itu indah, namun jika seruan berdamai itu bersanding dengan sesuatu yang membahayakan, bahkan mengancam nyawa seperti halnya virus corona yang mematikan, maka siapa pun orangnya, akan berfikir seribu kali lagi untuk melakukannya, kecuali dalam keadaan dipaksa dan terpaksa. Apalagi hingga detik ini belum ada data yang menunjukkan angka penurunan dari wabah tersebut.

Oleh sebab itu, seruan berdamai dengan covid 19 ini , jelas membuat para penyelenggara daerah dan juga masyarakat luas menjadi bingung. Saat beberapa pemerintah daerah sedang mengajukan pemberlakuan PSBB dengan segala kemampuan dan konsekwensi yang lebih besar ditanggung oleh daerah, namun beberapa pelanggaran justru dilakukan oleh pemerintah pusat dengan membuka kembali operasi transportasi udara maupun darat.

Penguasa kita telah menabuh genderang perang untuk berjuang melawan virus corona, dengan berbagai pernyataan kebijakan yang telah dijalankan. Namun, perang belum selesai pak Jokowi malah mengambil ancang-ancang berbeda. Ia meminta warganya untuk hidup “berdamai dengan corona”. Entah, apakah seruan damai ini merupakan bentuk kepasrahan, atau keputusasaan penguasa terhadap penyelesaian penyebaran wabah covid 19?

Masyarakat dibuat bingung dengan keputusan pemerintah dalam penanganan covid-19 ini. Hingga analis Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah menilai selama ini penanganan Covid-19 oleh pemerintah itu cenderung lemah dari sisi perencanaan.

Menurut dia, Jokowi  terlampau memberi kesan inkosisten dalam membuat kebijakan. Sehingga, hal tersebut malah berisiko memperparah ketidakpercayaan publik (distrust) terhadap pengambilan keputusan yang dilakukan pemerintah.

Baca Juga :  Pembangunan Infrastruktur Jalan Itu Ada Mekanismenya

“Kita lihat memang sekarang ini pemerintah lemah dalam membangun kesadaran masyarakat, loyalitas masyarakat sendiri,” kata Trubus saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Ini semua seharusnya tidaklah terjadi, bagaimana dapat melindungi rakyatnya dari wabah, jika pemerintah tidak tegas dalam mengambil dan membuat sebuah kebijakan. Tak dipungkiri, sejak awal penanganan covid-19, pemerintah terkesan lamban dalam menanganinya, bahkan hanya mengelabui rakyatnya, mulai dari kebijakan-kebijakan yang nyeleneh, seperti membebaskan banyak napi disaat wabah, memberi izin masuk TKA Cina, menaikkan iuran BPJS dan kebijakan yang berubah- ubah(inkonsisten) yang saat ini telah digaungkan oleh penguasa kita yakni seruan kata ” berdamai” .

Walaupun dalam hal ini pihak Istana meluruskan maksud ucapan dari presiden, tak jauh berbeda memang pak Jokowi bermaksud untuk memberikan pesan agar masyarakat dapat menyesuaikan kehidupannya dan tetap produktif ditengah pandemi.

“Bahwa covid itu ada dan kita berusaha agar covid segera hilang, tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena covid menjadikan ada penyesuaian dalam kehidupan ”

kata Deputi Bidang Protokol, pers dan media sekretariat presiden Bey Machmudin kepada wartawan, jum’at.

700 Covid Hariannkri

Nah, itulah maksud ucapan seruan ” berdamai” yang telah diluruskan oleh pihak istana yang justru harus dapat membuka mata hati dan pikiran kita semua. Bahwa sistem hari ini (kapitalisme Demokrasi) tidak dapat menjamin agar masyarakat terhindar dari wabah.

Sederhananya damai dalam arti virus tetap menular, namun ekonomi diharapkan kembali bergerak sehingga seakan rakyat diminta berpikir tentang wabah ini seperti menghadapi penularan penyakit lain, hepatitis, DBD, TBC atau bahkan Hiv Aids.

Sungguh sangat ironis, inilah carut marut penyelesaian wabah dalam kepemimpinan sistem kapitalisme, pemberlakuan PSBB yang belum membuahkan hasil yang baik, namun disusul dengan seruan ” berdamai” dengan wabah covid 19.

Tentu ini terlihat penguasa terkesan abai dalam kondisi yang terjadi. Seakan-akan masyarakat dipaksa dan harus terpaksa dalam arti mereka rela keluar rumah demi nafkah anak istri, walaupun di depan mereka bertebaran wabah. Sebab dalam kepemimpinan sistem kapitalis tak ada yang dapat menjamin itu semua, walaupun dalam kondisi yang buruk seperti saat ini. Rakyat harus berjuang sendiri- sendiri tanpa ada yang melindungi, menjaga dan mengayomi. Teriris perih, rakyat semakin tercekik dalam sistem yang buruk ini.

Entahlah, kapan akan berakhir wabah ini, seandainya penguasa mau memberlakukan lockdown dengan menjamin kebutuhan rakyat, tentu akan mempermudah mengurangi wabah, sebab cara itulah yang telah diterapkan oleh Nabi besar kita Muhammad Saw. beserta para sahabatnya, namun sebaliknya seruan berdamai bersama wabah hanyalah akan memperparah keadaan.

Baca Juga :  Wind of Change (Angin Perubahan), Sebuah Opini Tony Rosyid

Kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah sebagai anugrah Sang Pencipta sebagian besar dikuasai oleh swasta dan pengusaha asing aseng, berawal dari tata kelola negara yang tak baik inilah kesejahteraan rakyat tergadaikan.

Sistem kapitalisme Demokrasi sangat berbanding terbalik dengan sistem Islam, kepemimpinan dalam sistem Islam sangat bersungguh-sungguh dalam mengurus dan melindungi umat. Sabda Rasul SAW

“imam/ khalifah, kepala negara adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas pengurusan rakyatnya.” ( HR.Al Bukhari).

Dalam kondisi wabah yang melanda khususnya Indonesia, dimana banyak rakyat yang mengalami PHK, serta tidak terpenuhinya kebutuhan keluarga, maka peran negara betul – betul dibutuhkan, sebagaimana sejarah mencatat bahwa dimasa kepemimpinan negara Islam dibawah Khalifah Umar Bin Khattab ra. yang berpusat di Madinah. Negara Islam juga tak lepas dari krisis ekonomi. Beliau langsung memerintahkan pendirian posko-posko bantuan, kemudian membagikan makanan dan pakaian langsung kepada rakyat yang jumlahnya mencapai enam puluh ribu orang.

Selain itu, catatan sejarah juga menunjukkan bahwa negara berperan penting untuk melindungi kesehatan warganya dari penyakit, tanpa memandang status sosial dan keyakinannya.

Di masa Kekhilafahan Islam, dana wakaf berkontribusi hampir 30% dari pemasukan Baitul Mal. Besarnya dana ini membuat layanan dan penelitian kesehatan menjadi maju karena tidak ada beban untuk mengembalikan “keuntungan”.

Khilafah Islamiyah juga didukung sistem ekonomi yang kuat. Negara mengatur kekayaan sesuai porsinya. Islam telah menetapkan kekayaan dalam tiga bagian, yaitu harta individu, harta milik umum dan harta negara. Kekayaan milik umum akan dikelola negara dan dikembalikan manfaatnya untuk kesejahteraan rakyat.

Allah SWT Sang Maha kuasa dengan segala kekuasaannya, tidak ada mahluk yang dia ciptakan dengan sia- sia, semua pasti akan mendatangkan kebaikan, seperti halnya virus corona kecil tak terlihat oleh mata kita, buruk menurut pandangan manusia namun belum tentu buruk dimata sang pencipta.

Namun dengan adanya wabah ini semoga dapat menggugah hati perenungan bagi kita semua untuk menghasilkan sebuah kesadaran saatnya bersegerah kembali dan menjalankan seluruh syariat Allah swt. baik itu dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan negara.  Berhijrah dari sistem yang buruk menuju kepada sistem Islam adalah suatu jalan kebenaran dan kemuliaan.

Di bulan suci yang penuh berkah, di tengah wabah virus covid 19. Semoga Allah Swt, senantiasa meneguhkan keimanan kita semua.Dan membalikkan hati- hati mereka yang membenci dan menghalangi menjadi pembela dan mendukung diterapkannya syariat Allah SWT.  Wallahua’lam bissawab.

700 Covid Hariannkri
Loading...