Demokrasi Dalam Pagar Kawat Berduri, Sebuah Opini Muslim Arbi

Demokrasi Dalam Pagar Kawat Berduri, Sebuah Opini Muslim Arbi

Demokrasi Dalam Pagar Kawat Berduri. Oleh: Muslim Arbi, Direktur Gerakan Perubahan.

Demokrasi dalam pagar kawat berduri. Ini tak elok di ucapkan. Demokrasi mesti di ruang bebas udara. Dan bukan ruang kedap suara. Karena demokrasi adalah ekspresi pikiran dan pendapat anak-anak manusia. Tentang hak-hak politik dan sebagainya.

Demokrasi terkait pemilu adalah pemberian ruang seluas-luasnya bagi warga negara untuk mendapatkan hak-hak politik secara aman dan damai dalam partisipasi kerangka berbangsa dan bernegara.

610X200 HUT Kapuas

Demokrasi tidak bisa di bendung oleh pagar kawat-kawat berduri di sekitar KPU dan MK. Karena melingkari Kawat berduri di KPU dan MK adalah upaya secara sengaja untuk menciptakan rasa horor dan ketakutan dalam suasana elegan dan harmonis.

Baca Juga :  Rezim Kolaborasi Kapiltalis-Komunis? Sebuah Opini Muslim Arbi

Biarkan kantor KPU dan MK tanpa kawan berduri. Karena KPU dan MK adalah di antara simbol-simbol tegaknya demokrasi.

Membiarkan KPU dan MK tetap di lingkari kawat berduri. Sesungguhnya di dalamnya mengandung ekpresi ketakutan dalam proses berdemokrasi. Bukankah massa damai yang mendatangi KPU juga Bawaslu dan sekarang MK tidak buat onar dan huru-hara bukan?

700 Covid Hariannkri

Kalau pun ada insiden 21-23 Mei di Bawaslu dan menyisakan korban gugur dan luka-luka serta puluhan yang hilang itu by design bukan? Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Mohon di usut tuntas

Karena massa aksi damai sudah mundur dan menyisakan massa settingan bukan? Maka lahirlah insiden berdarah di Malam Ramadhan itu.

Baca Juga :  Pemilu Presiden 2019, Menyegarkan Paham Agama, Melembagakan Demokrasi

Jika saja pikiran-pikiran pengamanan untuk proses dan jalannya demokrasi tidak di gelayuti oleh kawat berduri dan rasa ketakutan berlebihan. Niscaya demokrasi kita tumbuh elegan tanpa anarkisme.

Tetapi kawat berduri sudah memagari insitusi-institusi penegak Demokrasi seperti KPU, Bawaslu dan MK. Maka demokrasi kita serasa horor yang mengerikan. Dan itu tidak perlu terjadi. Biarkan saja horor-horor itu hanya ada di alam fiksi dan cerita-cerita di film saja. Janganlah cerita-cerita horor diwujudkan pada kawat-kawat berduri yang menciderai demokrasi kita.

Demokrasi dalam kawat berduri ini semoga saja hanya fenomena sesaat saja. Dan bukan selamanya.

Loading...