New Normal, Menambah Derita Baru Rakyat. Opini Khusnawaroh

New Normal, Menambah Derita Baru Rakyat. Opini Khusnawaroh

New Normal, Menambah Derita Baru Rakyat. Oleh: Khusnawaroh, Komunitas Peduli Umat.

Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah RI mulai memetakan skenario pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sudah berlangsung hampir tiga bulan, sejak pandemi virus corona (Covid-19) terdeteksi di Indonesia.

Demikian diutarakan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat membuka rapat terbatas Percepatan Penanganan Pandemi Covid-19 di Istana Negara, Senin (18/5).

610X200 HUT Kapuas

Selain itu, pada Jumat lalu, dari Istana Merdeka, Jakarta, Jokowi juga telah melayangkan pernyataan Indonesia akan memasuki fase tatanan kehidupan baru (The New Normal). Akibat pandemi virus corona yang sudah berbulan-bulan tak jua selesai.

Setelah adanya seruan damai dengan virus corona, selanjutnya kini rencana pemerintah menerapkan new normal. Namun kebijakan pemerintah dalam menanggulangi pandemi terus menuai kontroversi. Terlebih hingga saat ini kurva kasus virus corona di Indonesia masih belum menunjukkan tanda- tanda menurun.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengkritik persiapan kebijakan new normal. Terlebih, saat ini jumlah kasus positif virus corona di Indonesia masih terus meningkat. Menurutnya, Presiden Jokowi terkesan mengambil keputusan tidak tegas dan inkonsisten.

“Kebijakan mencla-mencle dan penanganan COVID-19 penuh inkonsistensi bisa menjadi “new disaster” (bencana baru), bukan “new normal”,” kata Fadli dalam keterangannya, Rabu (27/5).

Senada, Politikus PKS Mardani Ali Sera juga mengkritik sikap pemerintah yang menyiapkan new normal di sejumlah daerah. Menurutnya, kebijakan ini bisa menjadi bencana besar karena dilakukan saat penyebaran virus masih tinggi.

“Salah bila kita gembar gembor new normal di saat penyebaran yang masih tinggi dan vaksin yang belum ditemukan. Bunuh diri massal namanya,” ujar Mardani kepada kumparan.

Disisi lain, menurut para ahli, Indonesia ianggap belum mencapai puncak pandemi. Epidemiolog FKM Universitas Hasanuddin Ridwan Amiruddin menilai, rencana penerapan hidup normal baru atau new normal yang dipilih pemerintah terkesan prematur. Pasalnya, penerapan new normal dilakukan ketika kasus virus corona covid-19 di tanah air masih tinggi. (kanalkalimantan.com 29/05).

Ridwan menjabarkan mengapa dirinya menyebut prematur. Lantaran kurva Covid-19 di Indonesia masih belum mencapai puncaknya, angkanya terus bertambah signifikan dalam setiap harinya. Padahal, WHO sendiri telah menetapkan 6 kriteria dalam menentukan negara tersebut bisa menerapkan new normal. Salah satu dari kriteria tersebut adalah kurvanya sudah melandai.

Nah itulah berbagai kritik mewakili masyarakat dan para ahli telah bersuara, tentunya hanya untuk kebaikan negeri ini, terutama dalam rangka menanggulangi pandemi yang sedang melanda. Terbesik dalam hati bahwa penerapan hidup normal baru atau new normal yang dipilih pemerintah sangatlah berbahaya, tetapi semoga itu semua tidaklah terjadi, kita semua terhindar dari bencana besar.

Namun menelisik penerapan hidup normal baru atau new normal, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para ahli bahwa Indonesia belum dapat dilakukan. Seharusnya dan sebaiknya penguasa tidak mengabaikan sains dan suara rakyat tersebut.

700 Covid Hariannkri

Banyaknya kritikan di masyarakat membuktikan bahwa masyarakat tidak siap dengan penerapan yang akan dilaksanakan, terlebih didukung dengan pernyataan para ahli yang berkompeten dibidangnya. Kita bisa lihat penerapan PSBB telah diberlakukan, kurva kasus virus corona pun terus meningkat , bagaimana dengan akan diberlakukannya new normal ? bagaimana dengan nasib rakyat ?

Baca Juga :  Seruan Damai Terhadap Wabah, Bukti Buruknya Kepemimpinan Sistem Kapitalisme Demokrasi

Memang pada faktanya penerapan PSBB pun banyak dilanggar, hal ini tidak hanya dilakukan oleh warga terhadap pelanggaran rambu- rambu protokol kesehatan yang mungkin disebabkan kurangnya kesadaran dalam memelihara kesehatan saat wabah. Namun, pelanggaran ini juga terjadi dengan kebijakan pemerintah yang kontraproduktif, misal dengan dibukanya transportasi umum menjelang idulfitri, seperti dibukanya mal, taman hiburan, bahkan penguasa sendiri mengadakan acara konser yang itu diadakan disaat bulan suci ramadhan, meskipun tujuannya adalah untuk menggalang dana penanggulangan covid. dengan fakta itu semua kerumunan massa pun terjadi yang dapat menyebabkan penularan virus lebih besar.

Sehingga kebijakan penguasa yang kontraproduktif itulah pun juga yang menyebabkan penerapan PSBB tidak berjalan dengan sempurna. Ini membuktikan bahwa penguasa terkesan sangat gerah dengan pemberlakuan PSBB secara berkepanjangan, dan new normal pun telah digemborkan.

Sekalipun rakyat dan para ahli dibidangnya bersuara, nampaknya hal itu hanyalah angin lalu. Inilah buah sistem yang membersamai kita saat ini yang melahirkan penguasa yang tidak berpihak kepada rakyat, pada saat mencalonkan jadi penguasa mereka berebut meraih suara rakyat dengan berbagai cara, namun setelah menjadi penguasa, suara rakyat, derita rakyat tak terfikirkan oleh mereka. Keinginan rakyat terhadap penguasa untuk memberlakukan lockdown hanyalah tinggal anggan, PSBB secepatnya hanya tinggal nama, namun mengapa penguasa terkesan sangat buru- buru melakukan new normal sekalipun secara fakta Indonesia belum dapat melakukan itu? Alasan agar roda ekonomi dan kehidupan bisa tetap berjalan, kemudian beban ekonomi yang ditanggung penguasa selama PSBB begitu berat.

Jika hal itu yang menjadi alasan mungkin sebagian masyarakat dapat menerima, dengan keterbatasan ekonomi. Meskipun mereka tau, sudah seharusnya penguasa dapat menjamin kebutuhan masyarakat, apalagi dimasa pandemi saat ini. Sebab dalam Islam seorang pemimpin adalah pelindung yang bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya, itulah keharmonisan yang ditunjukkan oleh rakyat Indonesia yang mayoritas muslim yang senantiasa menginginkan kedamaian.

Namun, apakah penguasa memahami itu semua ? Faktanya tidak. Penguasa seakan tak mau mengerti beban derita yang dirasakan rakyat. Rakyat diperas dengan BPJS, pajak, pembayaran listrik naik, telat dalam pembayarannya pun langsung cabut. Disaat pandemi, rakyat disuguhkan dengan masalah itu semua. Tak dapat dipungkiri bahwa wabah yang melanda adalah sudah ketetapan dari Allah SWT dan harus ikhlas menerimanya. Sebagaimana telah menimpa pula pada umat terdahulu. Dan upaya mengatasinya pun telah sempurna dicontohkan oleh suri teladan kita nabi sekaligus pemimpin baginda besar kita Muhammad SAW beserta para sahabatnya Dan seharusnya itu semua dapat dilakukan oleh umat atau pemimpin kita hari ini.

Baca Juga :  Hindari Potensi Chaos, GPJ Dukung Polri Perkuat Intelijen

Dan sungguh sangat miris, jika pemberlakuan new normal ini benar- benar terjadi, new normal tidak melindungi rakyat dari wabah, yang ada dan sangat dikhawatirkan jumlah penderita covid akan semakin bertambah, ditambah jika penguasa memaksakan kebijakan ini dengan pengerahan TNI yang bisa berdampak negatif terhadap kehidupan sosial masyarakat,

hingga Kepala Biro Penelitian, Pemantauan dan Dokumentasi Kontras Rivanlee Anandar pun tak setuju dengan pelibatan aparat karena menurutnya itu justru membentuk situasi abnormal, bukan pengondisian kelaziman baru. Lebih jauh, hal demikian malah memperbesar potensi masuknya TNI ke ranah sipil dan berbuat sewenang-wenang. Sehingga dikhawatirkan keterlibatan mereka dalam penanganan COVID-19 menyusutkan kebebasan sipil.

Sehingga, bila rencana ini tetap dijalankan, semakin jelas bahwa kebijakan sistem saat ini dikendalikan oleh kapitalis, bukan didasarkan pertimbangan kemaslahatan publik, rakyatlah yang menuai derita baru, terutama rakyat kecil.

Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam, dimana negara dijalankan dengan berdasarkan Islam yang bersumber dari Al-quran dan Hadist, sehingga kehidupan normal dalam Islam adalah ketika kehidupan itu berjalan diatas syariat Allah swt. Teringat sebuah artikel bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan adalah new sistem, sistem baru dalam hal ini sistem Islam yakni sistem yang secara fakta dalam sejarah telah tertuliskan dapat mensejahterakan umatnya, tentang bagaimana Rosulullah saw. dan para sahabatnya sebagai pemimpin, itu semua sudah sangat jelas dicontohkan keunggulan dan kejayaannya tak dapat tertandingi oleh sistem yang lain, sebab sistem Islam adalah sistem yang bersumber dari wahyu Allah swt. yang dapat membawa kehidupan manusia sesuai dengan fitrohnya .

Dalam sistem ini tidak terjadi kesewenangan penguasa terhadap rakyatnya, pun tak tergesa- gesa dalam mengambil keputusan, senantiasa mendengarkan suara umat dan para pakar. Dalam kepemimpinan sistem ini sangat mementingkan nyawa rakyat dari pada kepentingan ekonomi. Sehingga, ketika terjadi wabah pemberlakuan lockdown pun dengan cepat, tegas dan siap dilaksanakan dengan menjamin kebutuhan umatnya.

Terkisah Khalifah Umar Bin khattab ra. adalah seorang pemimpin yang membaktikan seluruh waktunya untuk rakyat, tiap malam beliau patroli hingga pelosok kampung untuk memastikan semua rakyatnya hangat dan kenyang sehingga bisa tidur nyenyak, sang khalifah sendiri jarang tidur saking lelahnya beliau kadang tertidur di bawah pohon kurma dekat masjid nabawi, beliau pun rela hidup sederhana membersamai rakyatnya disaat wabah melanda.

Sehingga melindungi, mengasihi, mengayomi rakyat hanya dapat ditemui dalam sistem ini, dan siapakah yang tidak rindu dan menginginkan sistem ini kembali kecuali mereka para pencinta kebatilan,semoga kita tergolong sebagai manusia yang merindukannya. Wallahua’lam bissawab.

700 Covid Hariannkri
Loading...