Menstabilkan Ekonomi Ditengah Wabah Virus Corona. Opini Nelly MPd

Menstabilkan Ekonomi Ditengah Wabah Virus Corona. Opini Nelly MPd
Nelly MPd, Aktivis Peduli Negeri

Menstabilkan Ekonomi Ditengah Wabah Virus Corona. Oleh: Nelly MPd, Aktivis Peduli Negeri.

Kembali Nilai Tukar Rupiah melemah terhadap dolar AS hingga mencapai Rp16.550 pada akhir Maret ini, mendekati kondisi krisis 1998 dulu. Nilai tukar rupiah hari ini kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah hari ini berada di atas level Rp 16.000, bahkan mendekati posisi terburuk pada krisis 1998.

Pada Juni 1998, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada titik terendahnya di level Rp 16.950. Apalagi semenjak wabah virus corona melanda negeri pertumbuhan perekonomian RI mulai menurun, Menkeu Sri Mulyani mengatakan terjadi penurunan pada sektor pariwisata dan perdagangan RI.

610X200 HUT Kapuas

Dari sisi domestik, di tengah adanya social distancing, membuat masyarakat menurunkan aktivitas kegiatan sehar-harinya. Sehingga memberikan dampak pada sisi demand (permintaan) konsumsi dan dampak ketersediaan, karena adanya pengurangan aktivitas produksi.

Menanggapi hal ini ekonom sekaligus Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam, mengkhawatirkan jika pemerintah tidak bergerak cepat mengatasi penyebaran virus Corona, maka akan menyebabkan Indonesia alami krisis ekonomi berkepanjangan.

Kalau pemerintah tidak mengantisipasi corona ini dengan baik, kita bisa mengalami krisis. Krisis bisa dicegah dengan persiapan kebijakan yang tepat, sayangnya sejauh ini kebijakan itu belum tampak, pemerintah terlihat tidak punya persiapan untuk kondisi yang terburuk, kata Piter kepada liputan6.com, (17/3/2020).

Bukan tidak mungkin kejadian krisis ekonomi tahun 1998 akan kembali terjadi di negeri ini mengingat sistem kapitalis masih kita adopsi sebagai sistem aturan bernegara hingga dunia yang menjadikan mata uang kertas masih kita pakai hingga saat ini. Tentulah kenaikan kurs dolar ini akan berimbas pada kenaikan harga di nusantara. Krisis ekonomi pun tampak mengancam di depan mata.

Maka untuk menuntaskan masalah ekonomi, krisis mata uang yang selalu melemah ini kita harus mencari alternatif solusinya. Jika kemudian ada yang mewacanakan dinar dan dirham sebagai pengganti mata uang kertas, bisa saja ini suatu keniscayaan. Sebab dinar dan dirham berasal dari Islam, dimana Islam merupakan agama sekaligus pandangan hidup yang paripurna. Adanya Islam hadir sebagai solusi dari segala permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan manusia.

Baca Juga :  Virus Kecurangan di Dalam Demokrasi di Indonesia

Bukan hanya yang berkaitan dengan hubungan hamba dan Sang Pencipta. Namun, juga mengentaskan segala problematika yang melanda hubungan sesama hamba. Adapun permasalahan nilai kurs dolar yang terus meroket tajam sehingga mengakibatkan nilai rupiah kian terkapar. Islam memiliki analisis dan solusi menyikapinya.

Sebenarnya asal mula terjadi krisis moneter itu justru terjadi setelah dunia melepaskan diri dari standar emas dan perak. Hal itu disertai berpindahnya dinar dirham yang berbasis emas perak ke sistem uang kertas (fiat money), yaitu mata uang yang berlaku semata karena aturan dari pemerintah itu sendiri untuk memberlakukannya. Adanya uang kertas tersebut tidak ditopang oleh logam mulia seperti emas dan perak.yang akan sangat mudah untuk melemah dan terjadi inflasi akhirnya krisis moneter tidak dapat dihindari.

Mata uang dinar dan dirham sangat menarik untuk diperhatikan bahwa selama mata uang disandarkan kepada emas, selama itu pula mata uang relatif stabil dan kemungkinan mengalami krisis sangatlah kecil.

700 Covid Hariannkri

Ini terbukti pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW yang menggunakan mata uang emas (Dinar) dan perak (Dirham) dalam berniaga, yang mana pada masa itu tidak pernah terjadi krisis ekonomi seperti sekarang ini. Sistem ini berlanjut sampai dengan kekhilafahan Utsmaniyyah yang runtuh pada tahun 1924 sampai pada akhirnya para imperialis membuat tipu daya melalui imperialisasi ekonomi dan kekayaan, mereka menggunakan uang sebagai salah satu sarana imperialisasi dan merubah sistem uang emas ke sistem uang kertas.

Penggunaan Dinar dan Dirham merupakan suatu solusi atas perekonomian Indonesia bahkan dunia yang menggunakan sistem fiat. Penggunaan sistem uang fiat menimbulkan ketidakstabilan perekonomian dunia saat ini yang berimbas juga terhadap perekonomian di Indonesia, untuk mengatasi hal itu dibutuhkan mata uang yang stabil yaitu Dinar dan Dirham.

Dalam Kitab Nizham Iqtishad (Sistem Ekonomi Islam) karya Syekh Taqiyyuddin An-Nabhani dijelaskan beberapa manfaat sistem uang emas. Pertama, sistem uang emas memberikan kebebasan dalam pertukaran emas, impor ataupun ekspor. Kedua, sistem uang emas membuat kurs pertukaran mata uang antarnegara tetap, sehingga dapat mendorong perdagangan internasional. Tetapnya nilai kurs mata uang emas membuat para pebisnis berani mengembangkan bisnisnya.

Baca Juga :  PKS: Hadapi Virus Corona, Indonesia Masih Punya LBM Eijkman

Ketiga, dalam sistem mata uang, bank-bank pusat –dalam hal ini pemerintah– tidak akan mudah mencetak dan mengedarkan uang kertas. Jumlah uang kertas harus sama dengan jumlah emas yang dimiliki pemerintah. Banyaknya mencetak uang kertas akan membuat permintaan akan emas juga meningkat. Hal ini tentu akan memberatkan negara. Oleh karena itu, pemerintah memilih lebih hati-hati dalam mencetak uang kertas.

Keempat, setiap mata uang yang digunakan negara akan dibatasi dengan standar emas. Proses pengiriman barang atau orang pun akan sangat mudah, sehingga tidak akan ada kelangkaan uang. Kelima, setiap negara akan menjaga kekayaan emas. Tidak akan terjadi pelarian emas dari satu negara ke negara yang lain seperti saat ini. Negara akan menjaga agar emas tidak lari ke negara lain kecuali ada sebab yang dibolehkan oleh syariat.

Hanya saja, meski sistem mata uang emas dianggap terbaik, masih ada sisi kelemahannya. Salah satunya emas ini bersifat tetap dan kemungkinan besar hanya dimiliki negara-negara yang memiliki keunggulan, seperti teknologi, penemuan, intelektual, dll. Jika negara semacam ini berusaha menahan emas tidak keluar dari negaranya, bisa dimungkinkan perdagangan internasional mandek.

Meskipun demikian, dunia mengakui tidak ada sistem mata uang terbaik kecuali sistem emas ini sebagai pengganti fiat money (dolar) yang dipegang oleh AS. Dalam  rangkaian sejarah, Islam membuktikan bahwa sistem mata uang emas dapat menjaga kestabilan perekonomian dunia. Selama kurun waktu 13 abad lamanya, sistem mata uang emas menjadi pijakan alat tukar bagi negara – negara di dunia.

Hanya saja, sistem ini tidak akan bisa berjalan sendiri dengan sistem yang tidak Islami. Sistem mata uang emas perlu dikombinasikan dengan sistem ekonomi Islam. Dan sistem ekonomi Islam hanya bisa dijalankan oleh pemerintahan yang menerapkan sistem Islam secara totalitas.

Jika negeri-negeri kaum muslimin saat ini bersatu di bawah sistem Islam, maka dapat dipastikan Islam akan mampu kembali menjadi mercusuar dunia dengan mengulang masa keemasannya. Kesejahteraan dan keberkaan Insyaa Allah akan kita rasakan baik muslim maupun nonmuslim.

Wallahu a’lam bishawab

Loading...